Berkat sentuhan tangan dinginnya H.S Hermawan berhasil membangun imperium bisnis yang berada dibawah naungan Sindang Reret Group. Bisnis yang dibesut dengan modal hanya Rp364 ribu, omzetnya kini mencapai miliaran rupiah. Slamet Supriyadi
Restoran dengan mengusung cita rasa masakan sunda riuh mengepung hampir di seluruh penjuru Jakarta. Ada nama Dapur Sunda, Bumbu Desa, Mang Kabayan dan seabrek nama lainnya. Ini membuktikan jenis masakan ini masih memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Secara tampilan, resto yang sebagian besar berada dilokasi ‘bergengsi’ ini juga dibangun dengan gaya interior yang jauh dari kesan sederhana. Target pasarnya tidak lain menyasar kalangan kelas menengah atas. Terbukti dari ramainya kendaraan mewah roda empat yang terparkir di halaman resto tersebut.
Tapi tahukah, ramainya pengunjung yang kini menjadi pelanggan setia resto dari tanah parahyangan ini –kendati mereka tidak semuanya berasal dari etnis Sunda— tak lepas dari peran seorang H.S Hermawan. Jauh sebelum nama-nama resto itu bermunculan, pria kelahiran 12 Maret 1937 ini sudah lebih dulu membangun restoran dengan mengusung menu masakan sunda. ”Karena termasuk termasuk pioneer, saya beberapa kali mendapatkan penghargaan perintis masakan sunda dari menteri dan Gubernur Jawa Barat,” ujar Hermawan, Presiden Direktur Sindang Reret Group.
Dikalangan pengusaha perhotelan dan restoran Jawa Barat, nama Hermawan tentu sudah sangat dikenal. Ia adalah satu-satunya orang yang pernah menjabat ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) cabang Jabar selama lebih dari 32 tahun. "Saya menjabat sebagai ketua pada tahun 70-an dan baru beberapa tahun terakhir berhenti karena sakit. Itu pun masih banyak anggota yang menginginkan saya menjabat lagi tapi saya sudah tidak mau. Saya jadi penasehat saja," ujarnya. Diusianya yang menginjak 72 tahun, kesibukan Hermawan tak juga reda. Selain sebagai penasehat PHRI, pria kelahiran Garut ini juga didapuk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Jabar.
Wajar jika sebagian anggota PHRI masih menginginkan Hermawan untuk tetap menduduki posisi ketua. Pasalnya, selama ia memimpin PHRI sejumlah gebrakan yang dilakukan dirasakan betul manfaatny. Misalnya, kemampuannya meredam aksi sweeping yang dilakukan aparat trantib (ketentraman dan ketertiban) pada pihak hotel. Tindakan semacam ini dirasa cukup meresahkan pihak hotel dan para tamu yang menginap. ”Saya lawan mereka. Tapi saya tetap menjalin hubungan baik dengan pihak trantib dan juga kepolisian dengan dasar saling menghormati,” tuturnya.
Bukan itu saja yang membuat namanya tetap dikenang baik. Upayanya ’berperang’ melawan pihak YKCI (Yayasan Karya Citpa Indonesia) yang meminta royalty hingga miliaran rupiah kepada hotel-hotel di Bandung adalah salah satunya. ”Saya menentang habis-habisan. Bagaimana mungkin mereka meminta royalty sebanyak itu. Itu kan namanya pemerasan,” tambahnya lagi. Keberaniannya melawan ketidakadilan yang menimpa anggota dari asosiasinya membuat iklim perhotelan di Bandung berjalan sangat kondusif.
Sejatinya, jika menengok kembali ke belakang, keputusan Hermawan tercebur dalam bisnis restoran dan perhotelan melewati tahapan yang cukup dramatis. Bagaimana tidak. Hermawan yang pada tahun 1973 masih tercatat sebagai karyawan di salah satu bank pelat merah –Bapindo--, berani memutuskan untuk resign. Apa pasal? Rupanya ia melihat kehidupan para seniornya yang pada hari tuanya sangat pas-pasan secara ekonomi. Memang, ketika masih sebagai karyawan aktif sejumlah fasilitas masih menyambangi. Tapi begitu memasuki masa pensiun fasilitas itu akan hilang dengan sendirinya.
H. S. Hermawan”Harus punya keberanian!. Saya ingin anak cucu saya punya penghidupan yang lebih baik,” tandasnya. Untuk itu, pada tahun 1976, ia memantapkan hati dengan keputusannya itu. Sepintas, apa yang dilakukannya seolah tanpa melalui perhitungan yang matang. Apalagi, pada saat itu bekerja di sebuah institusi perbankan memiliki gengsi secara status sosial yang tinggi dalam masyarakat. Karena gaji dan fasilitas yang diterima sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tapi itulah Hermawan. Ia berani mempertaruhkan semuanya untuk sesuatu yang dianggapnya lebih baik.
Dengan sedikit uang yang diterimanya dari kantor, Hermawan berusaha meraih mimpinya. Ia balik lagi ke desa Ciwidey, membuka warung nasi dengan menu masakan sunda. Sedikit keahlian memasak yang dimiliki Hermawan dan sang istri menjadi modal membangun usaha tersebut. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama tiga bulan pertama nyaris tidak ada pembeli. "Terpaksa saya makan sendiri masakan yang sudah kami buat. Habisnya mau bagaimana lagi?” ujarnya mengenang saat-saat sulit itu.
Hermawan tak juga patah semangat. Ia yakin keputusannya tersebut tidak keliru. Sampai suatu ketika Bupati Bandung Lili Sumantri berkunjung ke desa itu, dan singgah untuk bersantap di warung milik Hermawan. Sang Bupati yang ternyata menyukai menu masakannya itu, juga menghadiahkan nama bagi warungnya. "Karena waktu itu belum ada namanya, Pak Lili lantas berinisiatif memberikan nama Sindang Reret untuk warung ini," tambahnya. Sindang Reret atau dalam bahasa Jawa sama artinya dengan Sudi Mampir. Sejak itu, perlahan geliat bisnisnya mulai terasa.
Ketika usahanya mulai berkembang, Hermawan berniat melakukan ekspansi bisnis. Gayung bersambut. Terdapat sebidang tanah milik Bapindo yang sedang dilelang di desa Cikole, Lembang. Sebagai mantan pegawai bank tersebut ia mendapatkan prioritas untuk melakukan penawaran. Tanah yang berada di Lembang tersebut sangat strategis untuk dijadikan tempat wisata. Setelah bernegosiasi dengan pihak bank tanah seluar 15 hektar itu akhirnya menjadi milik Hermawan.
Jika ingin memenangkan pertempuran kuasailah jantungnya. Ungkapan ini disadari betul oleh Hermawan. Strategi yang dipraktekkan pemimpin Cina Mao Zedong, yakni Desa Mengepung Kota. Ia yang merintis bisnis dari pinggiran Bandung, mau tidak mau mesti menembus jantung kota. Jalan satu-satunya ia harus memiliki tempat usaha yang strategis yang berada di dekat pusat pemerintahan Bandung. Kebetulan di jalan Surapati terdapat sebidang tanah yang ingin di jual. Tanah yang ditawarkan dengan harga Rp3 juta per m2 itu, dibanjiri banyak peminat. Anehnya, Hermawan yang datang belakangan langsung menyatakan berani dengan harga tersebut.
"Semua orang protes karena mereka sedang dalam proses negosiasi. Si pemilik tanah dengan tegas menjawab, karena Anda dari tadi hanya berani di angka Rp2,75 juta, Bapak ini yang lebih berhak," ujarnya menirukan. Uang Rp1 juta di kantong dibayarkan sebagai tanda jadi, selanjutnya ia pulang dengan kepala pening. Bagaimana tidak. Hermawan harus melunasi pembayaran sebesar Rp6 miliar, sementara ia tidak memiliki uang sebanyak itu. Beruntung pihak bank bisa membantu menyelesaikan sisa pembayaran sebesar Rp6 miliar tersebut.
Sindang ReretApa yang diperkirakan Hermawan rupanya menjadi kenyataan. Tanah itu disulap menjadi restoran yang asri, dengan renovasi menghabiskan dana hingga Rp3 miliar. Restoran yang letaknya tidak jauh dari instansi pemerintah seperti kantor DPRD, Pemda, Telkom dan sebagainya ini hampir tak pernah sepi pengunjung. Lantaran strategis, tempat ini juga biasa digunakan untuk pertemuan dan rapat-rapat kantor. Suasana restoran yang terasa asri memang sangat mendukung.
Kini, bisnis yang digagas puluhan tahun silam kini mulai menggurita. Setelah berkembang di Ciwidey dengan luas 10 hektar, di Cikole juga dikembangkan tempat hiburan lain berupa outbond untuk pengunjung yang suka berpetualang. Selain itu juga disediakan Anthorium bagi kaum hawa yang menyukai aneka jenis bunga. Yang jelas tempat ini menyediakan berbagai fasilitas wisata yang bisa dipilih oleh para pengunjung. Terdapat pula hotel sebanyak 45 kamar di masing-masing tempat itu.
Dikawasan Bandung dan sekitarnya, desa Ciwidey dan Cikole cukup kondang dijadikan sebagai tempat wisata. Pengunjungnya, terus membludak khususnya memasuki masa-masa weekend. Tak heran jika pundi-pundi bisnis Hermawan pun ikut membengkak. Untuk dua tempat itu, Hermawan mematok target pendapatan sebesar Rp600 juta. Sementara untuk Restoran di jalan Surapati target pendapatannya sebesar Rp750 juta dalam sebulan. Angka ini belum ditambah dengan pemasukan dari Destiny Catering yang melayani hampir seluruh instansi pemerintah dan swasta di Jawa Barat. Omzetnya dalam sebulan konon mencapai lebihd dari Rp1 miliar.
Kendati penguasaan bisnisnya sudah merengkuh hampir seluruh daerah Jawa Barat, Hermawan tidak punya keinginan untuk mengembangkan bisnisnya dengan sistem waralaba. Satu cabang Sindang Reret yang dibuka di Jakarta adalah lebih karena faktor permintaan dari pelanggan setianya. ”Saya ingin konsentrasi di Bandung saja,” ujar Hermawan yang tak terpancing untuk ikutan merambah bisnisnya ke daerah lain.
Diusianya yang sudah menginjak kepala 7, perlahan tongkat estafet mulai diserahkan kepada kelima anaknya. Mereka kini bisa mengembangkan semua yang dirintis Hermawan. Ide desa wisata, outbound, kebun bunga merupakan pengembangan dari mereka. Alhasil, Ciwidey dan dan Cikole kini menjadi dua tujuan wisata yang dikenal hingga diluar wilayah Jawa Barat.
Sumber : www.majalahpengusaha.com



